Mengatur Arus Barang Sekaligus Arus Uang

Jon E8

Member
Kalau bicara logistik di bisnis lokal, yang sering dibahas biasanya pengiriman dan stok. Padahal, ada satu hal yang tidak kalah penting dan sering bikin pusing, yaitu soal pembayaran. Barang sudah dikirim, tapi uang belum masuk. Di sinilah logistik bertemu langsung dengan arus kas.

Banyak pelaku usaha lokal baru menyadari dampaknya setelah usaha mulai ramai. Order meningkat, barang keluar terus, tapi kas terasa seret. Salah satu penyebabnya sering ada di pengaturan termin pembayaran yang belum tertata.

Logistik dan Termin Pembayaran Tidak Bisa Dipisahkan
Dalam praktik sehari hari, logistik bukan cuma soal barang bergerak. Setiap pergerakan barang selalu diikuti transaksi. Kapan barang dikirim, kapan tagihan dibuat, dan kapan pembayaran diterima, semua saling terhubung.

Contoh sederhana, usaha distribusi makanan ringan ke warung. Barang dikirim rutin setiap minggu. Kalau termin pembayaran tidak jelas, bisa saja pembayaran baru diterima sebulan kemudian. Di sisi lain, supplier minta dibayar lebih cepat. Akhirnya, pemilik usaha harus menutup selisih dari kantong sendiri.

Pemahaman tentang termin ini dibahas lebih rinci dalam artikel apa itu termin dalam bisnis logistik dan perannya mengelola arus kas.

Tantangan Mengatur Termin di Bisnis Lokal
Bisnis lokal sering dihadapkan pada dilema menjaga hubungan dan menjaga arus kas. Pelanggan minta tempo, tapi supplier juga minta kepastian pembayaran. Di tengahnya, bisnis lokal harus pintar mengatur napas.

Tantangan lainnya adalah kebiasaan. Banyak kesepakatan dibuat secara lisan. Awalnya lancar, tapi saat order makin banyak, catatan mulai berantakan. Pembayaran telat, lupa ditagih, atau salah hitung jatuh tempo.

Misalnya, usaha percetakan lokal yang melayani banyak UMKM. Ada pelanggan bayar tunai, ada yang minta tempo dua minggu. Tanpa pencatatan yang rapi, logistik jalan, tapi keuangan jadi tidak terkontrol.

Apakah Anda pernah mengalami barang sudah dikirim, tapi harus menunggu lama untuk dibayar?

Praktik Sederhana Mengelola Termin dalam Logistik
Tidak perlu sistem rumit untuk mulai rapi. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan.

Pertama, buat kesepakatan termin sejak awal. Jelaskan dengan sederhana, kapan pembayaran dilakukan dan bagaimana mekanismenya. Ini membantu kedua belah pihak punya ekspektasi yang sama.

Kedua, catat setiap pengiriman dan jatuh tempo. Bisa pakai buku, spreadsheet, atau aplikasi sederhana. Yang penting, tidak mengandalkan ingatan.

Ketiga, sesuaikan termin dengan kemampuan bisnis. Tidak semua pelanggan perlu diberi tempo panjang. Mulai dari yang paling aman dulu.

Dampak Termin ke Kelancaran Logistik
Termin yang jelas membuat logistik lebih tenang. Kita tahu kapan uang masuk, jadi bisa merencanakan pembelian stok dan pengiriman berikutnya.

Contohnya di bisnis bahan bangunan lokal. Dengan termin yang tertata, pemilik usaha bisa menjadwalkan pembelian semen dan pasir tanpa khawatir kekurangan dana di tengah jalan.

Sebaliknya, termin yang berantakan sering membuat logistik tersendat. Barang tidak bisa dikirim karena kas kosong, padahal permintaan ada.

Termin sebagai Alat Kontrol Bisnis
Lebih dari sekadar aturan bayar, termin adalah alat kontrol. Dengan termin, kita bisa melihat siapa pelanggan yang disiplin dan siapa yang perlu perhatian khusus.

Diskusi ringan soal termin juga sering membuka jalan negosiasi yang sehat. Misalnya, pelanggan minta tempo lebih panjang, tapi volume order dinaikkan. Semua kembali ke keseimbangan.

Bisnis lokal yang bertahan lama biasanya tidak menghindari pembicaraan soal pembayaran. Mereka membahasnya di awal agar logistik dan keuangan bisa berjalan seiring.

Menyatukan Logistik dan Keuangan
Logistik yang lancar tanpa arus kas yang sehat hanya bertahan sebentar. Sebaliknya, keuangan rapi tapi logistik macet juga menghambat pertumbuhan.

Dengan mengelola termin pembayaran dengan lebih sadar, bisnis lokal bisa menjaga dua hal penting sekaligus. Barang tetap bergerak, uang tetap mengalir.

Kalau melihat kondisi usaha Anda sekarang, apakah termin pembayaran sudah membantu logistik berjalan lebih mulus, atau justru sering jadi sumber stres? Pertanyaan ini sering jadi awal perbaikan kecil yang dampaknya terasa besar di operasional bisnis sehari hari.
 
Loading...
Top